Serentak Cosplay Petani, UMRI Tanamkan Semangat Ketahanan Pangan kepada 3.738 Mahasiswa Baru

PKKMB dan Masta UMRI 2026 Angkat Ketahanan Pangan, Rektor dan 3.738 Mahasiswa Baru Cosplay Petani
Pekanbaru (umri.ac.id) – Berbeda dari pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru dan Masa Ta’aruf (PKKMB dan Masta) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Tahun Akademik 2026/2027 mengusung pesan yang lebih luas: menjadikan kampus sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Pesan tersebut diwujudkan secara unik dan simbolis. Rektor bersama jajaran pimpinan dan seluruh sivitas akademika UMRI serta 3.738 mahasiswa baru mengenakan busana dan atribut layaknya petani dalam rangkaian pembukaan PKKMB dan Masta UMRI yang dipusatkan di Kampus Utama UMRI, Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, pada Rabu (16/9/2026) pagi.
Aksi cosplay petani tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. UMRI menjadikannya sebagai simbol ajakan kepada generasi muda untuk melihat persoalan pangan sebagai tanggung jawab bersama, sekaligus mendorong perguruan tinggi mengambil peran lebih nyata melalui pendidikan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mengusung tema “Sang Pencerah Muda; SMART, Berkemajuan, dan Berdampak Bagi Semesta”, PKKMB dan Masta UMRI Tahun Akademik 2026/2027 dilaksanakan selama tiga hari, Rabu hingga Jumat (16–18/9/2026).
Konsep Ketahanan Pangan Nasional Berbasis Kampus menjadi salah satu fokus utama dalam pelaksanaan PKKMB dan Masta tahun ini. Melalui konsep tersebut, UMRI mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga generasi yang mampu menghadirkan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Wakil Rektor III UMRI, Wahyi Busyro, S.E.I., M.E., Ph.D., mengatakan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam memberikan kontribusi nyata terhadap penguatan ketahanan pangan nasional.
“Kita berharap UMRI sebagai perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis kampus. Kampus harus mampu menjadi ruang untuk melahirkan gagasan, riset, inovasi, sekaligus praktik nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wahyi.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam agenda tersebut. Dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam, mahasiswa UMRI diharapkan dapat mengambil peran sesuai dengan kompetensi masing-masing.
“Mahasiswa dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu dituntut untuk dapat memberikan nilai positif bagi ketahanan pangan. Persoalan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bidang ilmu, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.
Wahyi menjelaskan, ketahanan pangan berbasis kampus dapat diwujudkan melalui peran perguruan tinggi dalam memproduksi, meriset, mengembangkan teknologi, serta mengelola sistem pangan yang berkelanjutan dari lingkungan akademik.
“Ketahanan pangan berbasis kampus mencakup peran perguruan tinggi dalam memproduksi, meriset, dan mengelola sistem pangan berkelanjutan dari lingkungan akademik. Karena itu, UMRI ingin mendorong kampus sebagai pusat riset dan inovasi teknologi pertanian sekaligus menjadi bagian dari pilot project kemandirian pangan,” ungkapnya.
Menurut Wahyi, pendekatan tersebut juga sejalan dengan semangat tema PKKMB dan Masta tahun ini, yakni melahirkan Sang Pencerah Muda yang SMART, berkemajuan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi semesta.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa baru diajak memahami bahwa menjadi insan akademik tidak hanya ditandai dengan kemampuan intelektual, tetapi juga keberanian untuk terlibat dalam menyelesaikan persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, dan pangan.
Penggunaan atribut petani oleh Rektor, pimpinan, sivitas akademika, dan ribuan mahasiswa baru menjadi simbol bahwa kampus dan generasi muda perlu memiliki kedekatan dengan persoalan dasar kehidupan masyarakat, salah satunya pangan.
Lebih dari sekadar simbol, UMRI menempatkan konsep tersebut sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kampus yang mampu mendukung ketersediaan dan kedaulatan pangan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan inovasi.
Dengan demikian, PKKMB dan Masta UMRI 2026 tidak hanya menjadi pintu masuk bagi 3.738 mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan perguruan tinggi, tetapi juga menjadi momentum menanamkan kesadaran sejak awal bahwa ilmu pengetahuan harus hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak bagi kehidupan.
Rangkaian PKKMB dan Masta UMRI Tahun Akademik 2026/2027 berlangsung selama tiga hari dengan berbagai agenda pengenalan kehidupan kampus, penguatan karakter mahasiswa, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta pengenalan berbagai potensi dan program pengembangan mahasiswa di lingkungan UMRI. (Muhansir)
Pekanbaru (umri.ac.id) – Pemandangan tidak biasa terlihat di Kampus Utama Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Jalan Tuanku Tambusai, Pekanbaru, Rabu (16/9/2026). Ribuan mahasiswa baru bersama seluruh pimpinan dan sivitas akademika UMRI mengenakan pakaian dan atribut layaknya petani. Mereka tampil serentak dalam cosplay petani sebagai simbol dimulainya gerakan Ketahanan Pangan Nasional Berbasis Kampus.
Bukan sekadar penampilan unik dalam kegiatan penyambutan mahasiswa baru, cosplay petani tersebut menjadi pesan kuat yang sengaja dihadirkan UMRI dalam pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru dan Masa Ta’aruf (PKKMB dan Masta) Tahun Akademik 2026/2027.
Dengan mengenakan atribut petani, Rektor, jajaran pimpinan universitas, para Dekan, pimpinan unit kerja, dosen, tenaga kependidikan, hingga 3.738 mahasiswa baru tampil dalam satu simbol yang sama: kampus harus hadir dan mengambil bagian dalam membangun ketahanan pangan.
Mengusung tema “Sang Pencerah Muda; SMART, Berkemajuan, dan Berdampak Bagi Semesta”, PKKMB dan Masta UMRI tahun ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi bangsa.
Melalui cosplay petani secara bersama-sama, UMRI ingin menyampaikan pesan bahwa profesi petani dan sektor pangan merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus mendapat perhatian generasi muda. Perguruan tinggi tidak boleh berjarak dari persoalan pangan, tetapi harus hadir melalui pendidikan, penelitian, inovasi, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Wakil Rektor III UMRI, Wahyi Busyro, S.E.I., M.E., Ph.D., mengatakan bahwa keterlibatan seluruh sivitas akademika dalam cosplay petani merupakan simbol komitmen bersama untuk menjadikan kampus sebagai salah satu bagian dari solusi terhadap persoalan ketahanan pangan.
“Kita ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab petani, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, hari ini seluruh pimpinan, sivitas akademika, dan mahasiswa baru UMRI mengenakan atribut petani sebagai simbol bahwa kampus juga harus mengambil peran dalam mewujudkan ketahanan pangan,” ujar Wahyi.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia, pengetahuan, teknologi, serta kemampuan riset yang dapat dikembangkan untuk mendukung sistem pangan yang berkelanjutan.
“Kita berharap UMRI sebagai perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan ketahanan pangan berbasis kampus. Mahasiswa dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu dituntut untuk dapat memberikan nilai positif bagi ketahanan pangan,” jelasnya.
Wahyi menambahkan, konsep ketahanan pangan berbasis kampus yang dikembangkan UMRI mencakup peran perguruan tinggi dalam memproduksi, melakukan riset, mengembangkan inovasi, serta mengelola sistem pangan berkelanjutan dari lingkungan akademik.
“Kampus harus menjadi tempat lahirnya riset dan inovasi teknologi pertanian. Kita ingin membangun ekosistem yang memungkinkan perguruan tinggi tidak hanya berbicara tentang ketahanan pangan secara teori, tetapi juga menghadirkan praktik dan menjadi bagian dari pilot project kemandirian pangan,” ungkapnya.
Kehadiran ribuan mahasiswa baru dengan pakaian petani sekaligus memperlihatkan bahwa isu ketahanan pangan ingin dikenalkan UMRI sejak hari pertama mahasiswa memasuki kehidupan perguruan tinggi. Pesan yang dibangun sederhana, tetapi strategis: setiap disiplin ilmu dapat memberikan kontribusi terhadap pangan.
Karena itu, cosplay petani dalam PKKMB dan Masta UMRI 2026 menjadi simbol kolaborasi. Para mahasiswa baru tidak hanya diajak menjadi bagian dari kehidupan akademik, tetapi sejak awal diperkenalkan dengan semangat menjadi Sang Pencerah Muda yang mampu melihat persoalan masyarakat dan menghadirkan solusi.
Dengan demikian, ketika ribuan mahasiswa baru UMRI berdiri mengenakan atribut petani bersama seluruh pimpinan dan sivitas akademika, yang ingin ditampilkan bukan sekadar sebuah atraksi pembukaan PKKMB. UMRI sedang menanamkan sebuah pesan: dari kampus, dari ilmu pengetahuan, dan dari generasi muda, ketahanan pangan harus mulai diwujudkan. (Muhansir)